Tuesday, 18 November 2014

Pakar Penipu


Begini perumpaan itu…
Ketahuilah saudara semua…
  • Hati itu umpama RAJA
  • Badan itu umpama NEGARA dan RAKYAT JELATA
  • Mulut itu pula adalah SENJATA
  • Dan mata itu adalah umpama PERISAI nya




Sedarlah bahawa…
Kalau PERISAI itu sudah musnah (bermaksud mata itu tak dijaga…tak menundukkan pandangan)
Maka RAJA akan terbunuh (iaitu hati akan akan ikut nafsu).
Dan bila raja terbunuh, maka seluruh RAKYAT akan kucar-kacir (iaitu anggota badan akan mudah melakukan pelbagai maksiat kepada Allah) dan akhirnya NEGARA akan hancur musnah.
Musibah dan mala petaka berlaku, asalnya kerana kelemahan PERISAI yang tidak dijaga.
Oleh itu saudara, kuatkanlah PERISAI yang ada. Kalau betul anda sayangkan raja dan negara, perkukuhkan PERISAI dan manfaatkan SENJATA.
Tundukkanlah pandangan. Jagalah mata.
Jangan kau pandang perkara-perkara maksiat dan dosa. Jangan kau musnahkan perisai yang ada.
Sebab, apabila perisai itu sudah musnah. Raja akan terbunuh. Rakyat akan merana. Tika itu tiada lagi keamanan buat selamanya.
Ada pembaca blog ini bertanya kepada asya, apakah cara berkesan untuk melawan nafsu kita?
Nah, entri inilah jawapan saya…
  • Kuatkanlah PERISAI yang ada!
  • Jagalah pandangan mata!
Pandangan mata, adalah kunci untuk mengawal nafsu.
Apabila mata melihat, hati mula berbicara :
“Saya mahu kepadanya…”
Mulut pula memainkan peranannya. Mulut berbicara :
“Ohh alangkah nikmatnya, kalau dapat memilikinya…”
Dan akhirnya, kita kalah kepada nafsu yang menggila….

Kalau orang perempuan, pergi pasar atau shopping complex contohnya.

Tengok beg tangan, nak beg tangan. Tengok kasut, nak kasut. Tengok tudung, nak tudung. Tengok rantai emas, nak emas. Habis semuanya dia nak. Sedangkan, dia sudah pun memiliki kesemuanya itu. Mengapa dia nak lagi?

Sebabnya, dia tak jaga PERISAInya. Dia tak jaga pandangan matanya…

Perisainya sudah musnah. Hatinya sudah punah. Yang tinggal, nafsu membelinya sudah bermaharajalela….
Samalah juga halnya dengan golongan lelaki. Apabila matanya tidak dijaga. Dia pandang ikut sedap matanya.
Apabila tengok awek seksi, dia tenung dalam-dalam. Mata melihat, hati mula membayang.

Kalau dia tak perkukuhkan perisai (jaga matanya), akhirnya dia pasti akan tewas dengan nafsunya.
Sahabat semua… Ayuh mari perkuatkan perisai kita. Kita jaga pandangan mata.

InsyaAllah, kita pasti mampu mengawal nafsu yang menggila. Mujahadahlah untuk menjadi hamba yang sentiasa taat kepadaNYA…

Kisah Cinta Ali Dan Fatimah


Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu

"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "

"Aku?", tanyanya tak yakin.

"Ya. Engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"

"Entahlah.."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"

"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,

"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"

Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"

'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"

Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)


Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan 'Ali"

Cara Reset Minda Hebat

[anthony+robbins.jpeg]



1. Fokus

Salah satu alasan mengapa begitu sedikit dari kita yang benar-benar mencapai apa yang kita inginkan adalah bahwa kita tidak pernah fokus; kita tidak pernah berkonsentrasi. Kebanyakan orang mencoba-coba cara mereka menjalani hidup, tidak pernah memutuskan untuk menguasai sesuatu secara khusus."

Fokus adalah hal penting dalam mencapai sesuatu, dan kebanyakan kegagalan bermula dari biasnya fokus yang sudah ditetapkan.

2. Keputusanmu Menentukan Takdir

"Bukan apa yang terjadi pada Anda sekarang atau apa yang telah terjadi di masa lalu Anda yang menentukan siapa Anda. Sebaliknya, itu keputusan tentang apa yang harus anda fokuskan pada hal-hal yang berarti bagi Anda, dan apa yang akan menentukan takdir Anda."
Lebih dari apapun, keputusan anda dalam hidup menetukan takdir anda di masa depan. Sehingga anda harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, pikirkan secara matang baru anda eksekusi.

3. Kenali jalan untuk sukses

Ada empat hal yang harus anda kenali jika ingin menggapai sukses,
(1) Anda jelas memutuskan dan berkomitmen terhadap apa yang benar-benar ingin anda capai,
(2) Anda bersedia untuk mengambil langkah besar,
(3) Anda memperhatikan apa yang bekerja atau tidak, dan
(4) Anda terus mengubah pendekatan Anda sampai Anda mencapai yang Anda inginkan.

4. Naikkan standar

"Good is not enough" buatlah lebih dan lebih baik lagi, karena improvisasi selalu membuat anda lebih baik dari waktu ke waktu.

5. Lakukan apa yang anda tahu

Anda lihat, dalam kehidupan, banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar melakukan apa yang mereka ketahui. Mengetahui tidak cukup! Anda harus mengambil tindakan.

6. Belajar dari orang lain

Jika anda ingin sukses, temukan orang yang anda nilai sukses dalam kehidupannya dan tiru cara-cara mereka untuk sukses. Tiru, pelajari dan modifikasi, anda pasti sukses.


Nah, bagaimana dengan anda?